Batman Begins - Diagonal Resize 2

Kamis, 31 Oktober 2019

Dibalik Wolfenstein

Wolfenstein merupakan game berjenis science fiction first-person shooter (Sci-Fi FPS) yang digarap oleh Raven Software. Game yang merupakan sekuel dari seri terdahulunya ini, Return to Castle Wolfenstein, kembali mengangkat cerita era kekuasaan Nazi di tahun 1943.

Menghadang Tentara Nazi


Cerita berada pada suatu kota fiksi bernama Isenstadt, pemain akan berperan sebagai Agen B.J. Blazkowicz yang memang merupakan sosok yang cukup ditakuti oleh warga Jerman. Tugas utama pemain adalah mengungkap rahasia dari suatu benda misterius dengan menggunakan energi bernama Black Sun.

Nah, di sinilah pokok permasalahan dimulai. Pemain harus dapat mencegah sekelompok tentara Jerman yang bernama Third Reich, memanfaatkan energi dan benda tersebut untuk dijadikan senjata perang.

Untuk menghadapi tentara Nazi yang begitu banyak, pemain tidak sendirian. Di sepanjang permainan pemain akan dibantu oleh sekelompok pemberontak yang juga memiliki visi yang sama. Bukan hanya memberikan pertolongan, namun para pemberontak itu juga dapat memberikan senjata api yang dibutuhkan.



Wolfenstein selalu soal berperang melawan Nazi di skenario timeline sejarah alternatif. Memang, Wolfenstein selalu soal mengangkat senjata dan menyarangkan sebanyak peluru ke pasukan Nazi. Memang, Wolfenstein selalu soal menikmati sebuah dunia di bawah pemerintahan fasis dengan teknologi militer futuristik yang mentereng. Bahwa ia adalah sebuah game yang menjadi brutalitas dan kematian sebagai daya tarik utama. Namun satu hal yang tak pernah kami prediksi sebelumnya? Bahwa ia bisa berakhir menjadi cerita yang juga punya sisi romantis dan personal.
Percaya atau tidak, hal itulah yang terjadi dengan Wolfenstein II: The New Colossus, yang langsung membuatnya masuk ke predikat (kembali) sebagai salah satu game FPS modern terbaik yang pernah kami cicipi. Machine Games bereksperimen untuk menonjolkan karakter Blazkowicz tidak lagi sekedar sebagai seorang prajurit khusus Amerika tanpa celah, tetapi lebih menonjolkan apa yang tidak pernah ditonjolkan – sisi manusiawi yang ia usung. Di cerita ini, Anda bisa merasakan bahwa masa lalu membentuk ia menjadi karakter yang selama ini kita kenal, sekaligus menikmati betapa rapuhnya ia ketika berhadapan dengan kematian orang yang begitu ia puja-puji, atau berhadapan dengan fakta bahwa aksi berbahayanya kini tidak lagi tidak punya konsekuensi. Ia kini punya seorang kekasih dengan dua anak kembar di dalam perut yang harus ia lindungi. Ini jadi pertempuran untuk masa depan yang bukan lagi sekedar mengibarkan bendera Amerika Serikat di tengah dominasi Nazi. Tetapi membentuk Amerika Serikat yang “ideal” untuk kelahiran dua anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar